Navigation

alun-alun subang

LSM SUBANG: DIKTATOR KECIL PENUH TIPU-TIPU

Oleh: Suci Pane Prameswari

Biro Hukum Subang Transparansi Watch

 

Roma tak diciptakan dalam satu malam. Pun Subang.

Tapi di mata Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Subang, argumentasi di atas menjadi majal dan egois. Bagi mereka segalanya harus selesai dalam satu malam, dan harus sesuai dengan selera mereka. Bahwa apakah mereka membayar pajak atau bukan, yang menjadi kunci terjadinya dialektika antara masyarakat dengan pemimpinnya, itu menjadi hal lain. Subang dalam cengkeraman diktator kecil, yang gemar memaksa dan merisak, lalu negoisasi kemudian.

Tentu saja refleksi di atas tak serta-merta mewakili keseluruhan aktivitas LSM di Subang. Namun sulit dimungkiri sebagian besar masyarakat Kabupaten Subang telanjur jengkel dengan praksis LSM yang justru menjauh dari penguatan masyarakat. Masyarakat telanjur apatis, sadar pada kenyataan bahwa mereka cuma dipinjam.

Fakta di lapangan menunjukkan, sisik-melik yang sedang diperjuangkan oleh LSM di Subang justru tidak match dengan kebutuhan masyarakat. LSM seolah menjadi operator atas diktatorisme jalanan, semacam parlemen partikelir, yang mendesak-desakkan prasangkanya sambil membungkus semua tuntutan-tuntutannya dengan kepentingan pribadi. Kita, misalnya, sulit memahami LSM di Subang tak berminat mengisi fungsi literasi atau pendampingan yang justru dibutuhkan oleh masyarakat.

Tak cukup sampai di situ, LSM di Subang tiwikrama menjadi diktator  yang tampak heroik, namun  lebih mementingkan kepentingan-kepentingannya sendiri. Sudah menjadi rahasia awam LSM membawa agenda sendiri sambil menekan SKPD demi satu dua proyek pengadaan. Barang buktinya adalah prasangka, dan catatan-catatan sumir.

Lebih jauh lagi, LSM Subang tak memiliki kredibilitas moral untuk bicara tentang moralitas kepemimpinan di Subang. Kita dipaksa bingung ketika satu dua LSM di Subang yang gegap-gempita,  menuntut kepemimpinan yang tanpa cacad, sedangkan pemimpin LSMnya bermasalah dengan sang istri di rumah.

Daftar kelakuan LSM di Subang dapat kita tambahkan sejauh mata memandang. Simak misalnya bagaimana sekumpulan LSM di Subang justru menjadi alat penekan untuk menyandera seorang pimpinan di sebuah desa di Subang. Segala upaya damai yang coba ditempuh, sebagai ejawahtahan dari musyawarah dan mufakat, justru dihalang-halangi oleh diktator kecil yang penuh tipu-tipu ini. Ujungnya adalah sejumlah daftar harga.

Kita bahkan tak mendengar LSM Subang bicara keras-keras tentang kesehatan ibu dan bayi, perlindungan kepada perempuan, literasi atas KDRT, poligami yang tak bertanggung-jawab, dan kasus-kasus domestik lainnya yang justru menjadi problem sehari-hari masyarakat. Alih-alih bicara tentang yang bermanfaat, satu dua LSM di Subang justru meludah ke langit.

Begitulah, Subang terlalu istimewa untuk diserahkan ke tangan diktator-diktator kecil yang penuh tipu-tipu. Dinamika pembangunan di Subang yang terbilang seksi, terlalu menyedihkan bila diserahkan ke mereka yang pagi mengaku LSM siang mengaku wartawan, sambil berharap mendapatkan proyek.

Apa pun, kita sebagai masyarakat Subang harus menjadikan kabupaten bagus ini bersama-sama. Subang tidak boleh didesak ke bibir jurang, ke tangan diktator kecil yang penuh tipu-tipu, yang belum berkuasa pun sudah kita ketahui agendanya.

Kita harus bergerak. Kita, bukan LSM.

Diposting pada kategory
Banner-Home-Top
TINGGALKAN KOMENTAR