Navigation

tgh

Kelas Menengah dan Status Pembangunan

Oleh: Teguh Deni Aljabar*

Pembahasan mengenai topik tentang kelas menengah dalam ilmu sosial dan politik di Indonesia masih dipandang out of date, karena keterbatasan temuan mutakhir sehingga perlu sebuah upaya diskursus yang berkelanjutan, hingga banyak topik riset yang menarik untuk dilakukan penelaahan lebih ilmiah mengenai kelas menengah dengan menghindari munculnya reaserch misconducts.

Weber dalam memaknai definisi kelas memberikan tiga bentuk ciri pembentukan kelas, pertama sejumlah masyarakat yang memiliki tujuan bersama dalam kehidupan, kedua masyarakat yang memiliki kepemilikan dalam barang dan jasa, ketiga representasi dari adanya komoditisasi pasar buruh.

Tak keliru manakala pandangan Weber tersebut mengarah pada berdirinya penguatan aktivitas pasar, yang lalu kemudian berlabu pada pembangunan pasar yang merupakan sesuatu cukup esensial mengingat perannya sebagai agen reditstribusi ekonomi sosial. Maka, konsepsi kelas dalam pemahaman Weber sendiri tak lepas dari banyaknya diferensiasi kepentingan dalam kelas. Maka, disinilah kelas menengah disebut sebagai petit buorguoise untuk melihat peran sentralnya dalam ekonomi. Mengingat kelas menengah juga memegang perannya sebagai leisure class maupun juga intellectual class dalam bidang sosial, lalu status dalam kelas menengah sendiri mengindikasikan adanya tingkatan, keanggotaan, dan klasifikasi kelompok masyarakat.

Konsumsi kelas atas bisa disimak dari cara berpakaian, bekerja, dan menggunakan barang mewah yang menunjuukan adanya simbol, sedangkan kelas bawah sendiri cenderung menggunakan barang sesuai dengan utilitasnya. Maka pembangunan ekonomi di suatu negara kemudian mengikuti arah praktik ekonomi yang dilakukan oleh kelas tersebut. Tanpa melepaskan monopoli yang sedang di gulirkannya.

Posisi kelas menengah dalam pembangunan ekonomi negara sendiri berada di tengah-tengah tersebut. Sebagai aktor pendukung terhadap pembangunan ekonomi, kelas menengah memiliki kekuatan tenaga kerja dan modal yang cukup untuk menggerakan usaha mikro maupun juga usaha grosir. Selain itu pula juga bisa dimaksudkan untuk menyerap barang konsumsi yang dihasilkan oleh produksi pasar. Adapun konteks pembangunan ekonomi sendiri dilakukan pasar sebagai entitas utama. Pasar kemudian dimaknai sebagai dua bentuk yakni sebagai bentuk kebebasan ekspresi individu dan juga broker status kelas.  Hal tersebut mengingatkan bahwa dengan beraktivitas pasar berarti menunjukkan afiliasi dan afinitas terhadap kelas. Stratifikasi yang dibangun oleh pasar dalam membagi kelas masyarakat memang sangatlah kompleks.

Terdapat tiga pendekatan untuk mendefinisikan kelas menengah berdasarkan pengeluaran atau pendapatan rumah tangga: pertama, pendekatan absolut, kedua pendekatan relatif, dan ketiga pendekatan gabungan. Sebagai contoh, menurut Banerjee & Duflo (2008) yang menggunakan pendekatan absolut, kelas menengah adalah individu dengan pengeluaran per kapita per hari US$2 – US$4 dan individu dengan pengeluaran per kapita per hari US$6 – US$10.

Pendapat Benerjee & Duflo tersebut secara sederhana memberikan kita sebuah gambaran yang logis mengenai keterhubungan kelas menengan dengan kondisi pasar. Titik tekan Weber dalam melihat pasar sendiri juga berimplikasi pada perspektif melihat masyarakat. Individu merupakan entitas rasional yang dibedakan status, fungsi, dan perannya dalam pasar tergantung pada kepentingan yang ingin diartikulasikan dalam pasar.  Artinya bahwa individu adalah bagian penting dalam pasar sebagai bentuk pembangunan ekonomi disesuaikan dengan kontribusi yang diberikan kepada pasar, hal itulah yang kemudian menciptakan adanya spesialisasi kerja berdasarkan alat produksi dalam pasar.

Munculnya pasar dalam masyarakat kapitalis-industri juga merupakan indikasi adanya transisi perekonomian feodalisme menuju perekonomian modern berbasis mesin. Pasarlah yang kemudian menjadi arena penting dalam membagi masyarakat tersebut sesuai dengan alat produksi. Kelas pemodal menjadi kelas utama karena mendukung adanya transisi tersebut. Sedangkan kelas petani kemudian bertransformasi menjadi kelas buruh pabrik di kota-kota besar. Perbincangan mengenai konsep borjuasi kecil dalam pembahasan Weber sendiri kemudian berujung pada dua pendekatan utama yakni 1) pasar dan 2) rasionalitas.  Pendekatan Weber dalam memahami kelas sendiri berakar pada bentuk pembagian kerja sosial maupun juga fungsionalisme. Maka kemudian, pembentukan kelas menurut versi Weber lebih berorientasi pada kerja ekonomi yang kontributif secara ekonomi. Pendekatan ekonomi sedemikian menciptakan masyarakat kelas menengah sebagai bentuk organisasi homo economicus secara kolektif.

Kekuatan produksi kelas menengah dalam pembangunan perekonomian sendiri terletak pada diversifikasi alat produksi yang dimiliki. Kondisi tersebut yang kemudian menegaskan adanya penguasaan ekonomi baik dalam skala mikro maupun juga makro. Weber dalam karyanya yang lain yakni Essay in Sociology menyebutkan bahwa aglomerasi perekonomian urban sepenuhnya adalah dominasi borjuasi kecil dengan kekuatan produksi dan konsumsi. Hal tersebut didukung adanya sirkulasi kue perekonomian yang dilakukan seimbang dalam masyarakat. Borjuasi kecil tersebut bisa berarti pedagang, profesional, pelajar, maupu juga kalangan rumah tangga yang memiliki kekuatan produksi.

Pembahasan Weber mengenai kelas menengah sendiri menekankan adanya dieferensiasi kepentingan dan kebebabasan individu. Maka pasar kemudian adalah wadah untuk kedua hal tersebut disatukan dan ditukarkan satu sama lainnya. Pasar sebagai arena penukaran kepentingan  tersebut yang kemudian menghasilkan adanya status sosial.  Status tersebut kemudian mengidentifikasi dan mengklasifikasi masyarakat ke dalam kelas sesuai dengan kepentingan mereka.

*penulis merupakan Alumni STKIP Subang dan Founder Ngamper Ngemper

Diposting pada kategory ,
Banner-Home-Top
TINGGALKAN KOMENTAR