Navigation

Bupati Subang saat menghadiri Panen Raya Padi Hibrida 6810 di Dusun Waladin Desa Pasirbungur Kecamatan Purwadadi, Sabtu (23/3/19) yang lalu. Seperti diketahui jumlah produksi padi di Kabupaten Subang mengalami peningkatan di tahun 2018, hal tersebut mengundang pertanyaan dari beberapa pihak seperti masyarakat.
Bupati Subang saat menghadiri Panen Raya Padi Hibrida 6810 di Dusun Waladin Desa Pasirbungur Kecamatan Purwadadi, Sabtu (23/3/19) yang lalu. Seperti diketahui jumlah produksi padi di Kabupaten Subang mengalami peningkatan di tahun 2018, hal tersebut mengundang pertanyaan dari beberapa pihak seperti masyarakat.

Jumlah Produksi Padi Subang Naik, Ini Ternyata Rahasianya.

KabarSubang – Subang. Naiknya jumlah produksi padi di Kabupaten Subang memang membuat banyak pihak terkaget-kaget. Banyak warga yang menilai bahwa jumlah sawah di Kabupaten Subang semakin berkurang karena banyak nya alih fungsi lahan, sehingga secara hitungan awam seharusnya jumlah produksi pertanian pun seharusnya turun.

Menjawab pertanyaan tersebut, redaksi kabar subang berupaya mencari penjelasan yang ilmiah dengan menghubungi kepala Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BP Padi Subang) Bapak Dr. Ir. Priatna Sasmita, M.Si mengenai fenomena kenaikan jumlah produksi padi di kabupaten subang.

Priatna menjelaskan bahwa kenaikan jumlah produksi padi di Kabupaten Subang disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah masa tanam yang ditambah. Hal ini mengakibatkan jumlah produksi padi menjadi naik.

“Betul saat ini peningkatan produksi ditempuh dengan skenario Peningkatan Luas Tambah Tanam. Di Jawa cara ini sulit dilakukan dengan membuka lahan baru, malah yang ada betul seperti yang disebutkan banyak alih fungsi. Skenario ini ditempuh dengan percepatan tanam, sehingga diharapkan menambah indek pertanaman (IP) yang tadinya IP-2 (tanam 2 x setahun) menjadi IP-3 (tanam 3x setahun).” ujarnya kepada KabarSubang

Cara kedua meningkatkan produktivitas adalah dengan mengimplementasikan teknologi pertanian dengan baik. Salah satunya adalah implementasi teknologi budidaya varietas padi unggul baru dan juga teknologi pada saat panen dan pasca panen.

“Melalui Peningkatan Produktivitas yang saat ini rata-ratanya 6-7 ton/ha menjadi 9 ton/ha. Skenario ini dapat ditempuh melalui implementasi teknologi, termasuk teknologi budidaya, Panen dan pascapanen. Produktivitas dapat ditempuh terutama dengan implementasi teknologi budidaya.” sambung Priatna

“Cara ini dilakukan dengan rekomendasi budidaya, yang meliputi penggunaan varietas unggul baru, pemupukan, pengendalian OPT, pengelolaan air termasuk penggunaan alat mesin pertanian yang dapat meningkatkan efisiensi usaha.” lanjut alumnus Fakultas Pertanian Unpad ini.

Penggunaan VUB merupakan pilihan praktis dalam peningkatan produksi, karena varietas memiliki keunggulan produktivitas tinggi, tahan hama dan penyakit serta keunggulan lainnya yang dipadukan dengan pengelolaan lingkungan yang tepat.

“VUB saat ini telah memiliki potensi hasil di atas 9 ton/ha seperti Inpari 30 Ciherang Sub-1, Inpari 32 HDB, Inpari 42 GSR, Inpari 43 GSR dan sebagainya. Yang terpenting adalah, petani harus bisa memilih varietas yang paling sesuai dengan kondisi lingkungan setempat (spesifik lokasi).” tambah Priatna

Diakhir menurut Priatna pihaknya terus mendorong agar informasi mengenai ketersediaan teknologi pertanian ini bisa sampai ke petani dengan mendorong peran aktif penyuluh pertanian. “Kita dorong peran penyuluh agar dapat menghadirkan informasi ketersediaan teknologi di lahan petani.  (ram/red)

Diposting pada kategory ,
Banner-Home-Top
TINGGALKAN KOMENTAR