Navigation

Kepala BPNP dan Ridwan Kamil berforo bersama usai acara bedah buku dan seminar nasional bertajuk model sinergitas pentahelix merawat alam dan mitigasi bencana, Jumat (22/2/2019)
Kepala BPNP dan Ridwan Kamil berforo bersama usai acara bedah buku dan seminar nasional bertajuk model sinergitas pentahelix merawat alam dan mitigasi bencana, Jumat (22/2/2019)

Jabar Provinsi Terlengkap soal Bencana.

KabarSubang – Bandung. Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen. Doni Monardo mengatakan, Jabar ibarat supermarket bencana. Pasalnya, berbagai fenomena alam kerap terjadi, sebut saja tsunami, gempa bumi dan longsor. Khususnya dalam dua tahun belakangan ini.

“Mungkin kalau boleh kita anggap Jabar ini adalah provinsi yang sangat lengkap. Bisa menjadi supermarket dari semua jenis bencana, baik yang berasal dari hidrometrologi, gempa bumi dan juga potensi tsunaminya,” ujar Doni dalam sambutannya.

Menurut Doni, potensi bencana masih akan terjadi di Jabar pada beberapa waktu ke depan. “Kalau kita lihat dari Undang-undang nomor 24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana, bencana itu sumbernya ada tiga. Karena manusia, karena alam dan karena non-alam,” pungkasnya.

Gubernur Jawa Barat (Jabar) menargetkan susunan West Java Resilience Culture Blue Print alias cetak biru antisipasi bencana tuntas pada bulan Agustus mendatang. Saat ini pihaknya tengah melakukan Focus Group Discussion (FGD) guna mengumpulkan informasi untuk dokumen yang akan dijadikan pedoman oleh masyarakat dalam menyikapi bencana tersebut.

Diketahui, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat mengadopsi cara negara Jepang dalam penyusunan blue print ini. “Sekarang lagi mulai di-FGD-kan, targetnya Agustus (2019) selesai,” ujar Ridwan Kamil usai menjadi pembicara kunci dalam bedah buku dan seminar nasional bertajuk model sinergitas pentahelix merawat alam dan mitigasi bencana, di Bandung, Jumat (22/2/2019).

Dia mengatakan, di dalam blue print antisipasi bencana ini, akan dimuat berbagai langkah antisipasi bencana. Juga apa yang mesti dilakukan dari mulai level sekolah hingga masyarakat.

“Juga terkait level anggaran, di level teknis dan organisasi,” imbuhnya.

Menurut Emil, upaya penyusunan blue print antisipasi bencana ini dilakukan agar seluruh pihak bisa lebih komprehensif dalam menyikapi fenomena yang terjadi di Jabar. Mengingat, sejauh ini langkah-langkah yang dilakukan masih harus kian dimaksimalkan.

Dengan begitu, provinsi yang dipimpinnya akan lebih siap dalam menghadapi bencana. Mengingat besarnya potensi fenomena alam yang terjadi di Jabar. “Kita ingin belajar minimal ke bangsa Jepang bagaimana bisa komprehensif dalam menyesuaikan diri terhadap takdir alam yang terus menerus menyesuaikan diri melalui gempa, tsunami dan hal lainnya,” paparnya.

Sumber: Gatra

Diposting pada kategory ,
Banner-Home-Top
TINGGALKAN KOMENTAR