Navigation

M. Faiz Zawahir menjadi narasumber dalam acara orientasi mahasiswa baru Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Gunung Djati - Bandung.
M. Faiz Zawahir menjadi narasumber dalam acara orientasi mahasiswa baru Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Gunung Djati - Bandung.

Faiz Zawahir: Kontribusi Lembaga Pendidikan Tinggi harus dirasakan oleh Masyarakat.

KabarSubang – Kabupaten Bandung. Dalam Rangkaian acara orientasi mahasiswa baru Jurusan Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung 2018 yang dilaksanakan di Villa Karuhun Ciwidey Kabupaten Bandung.  Dalam kesempatan tersebut, Panitia Orientasi Mahasiswa Baru mengundang Faiz Zawahir, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Indonesia yang juga merupakan ketua dari Institute of Indonesian Civil Society (ICISOC) untuk menyampaikan materi perihal Mahasiswa 4.0.

Revolusi digital 4.0 menjadi tantangan baru dalam kehidupan masyarakat termasuk dunia pendidikan. Faiz berpendapat bahwa proses pendidikan di Universitas harus berorientasi pada penemuan inovasi yang berguna untuk masyarakat.

“Jika Universitas atau lembaga pendidikan tinggi hanya berorientasi pada metode kuliah yang hanya teoritis dan hapalan, itu kampus zaman purba. Ilmu dan teknologi yang dipelajari dan diteliti oleh mahasiswa tidak boleh terpisah dengan masyarakat” ujar Faiz

“Dengan demikian apa yang diteliti dan dipelajari mahasiswa akan menghasilkan penemuan dan inovasi yang dibutuhkan untuk menjawab tantangan dan masalah yang ada dalam kehidupan.” ujar Faiz melanjutkan

Diforum ini Faiz mengutip teori “Quadruple Helix”, Quadruple Helix adalah teori yang memang digunakan dalam merumuskan, menganalisis dan menilai inovasi agar berjalan secara efektif dan efisien.

Teori Quadruple Helix mengharuskan adanya katerlibatan empat elemen dalam sebuah inovasi yaitu : Pertama Elemen Universitas atau lembaga pendidikan tinggi, Kedua, pihak swasta, ketiga pihak pemerintah dan keempat adalah masyarakat.” lanjut Faiz

Faiz berpendapat bahwa di Indonesia masing-masing pihak sibuk dengan dunianya sendiri. Dosen dan mahasiswa hanya sibuk diskusi dan meneliti, tapi penelitiannya hanya menjadi tumpukan berkas, dimana penelitian mahasiswa dan dosen hanya jadi syarat lulus untuk mahasiswa dan menjadi syarat kenaikan pangkat untuk dosen.

“Harusnya penelitian yang dihasilkan oleh mahasiswa dan dosen menjadi rekomendasi bagi pemerintah, pihak swasta dan menjadi referensi bagi masyarakat. Dengan demikian kontribusi lembaga pendidikan tinggi akan terasa oleh masyarakat.” beber Faiz dengan menggebu-gebu.

Diakhir sesi Faiz mengajak Mahasiswa Baru Pendidikan Agama Islam untuk meningkatkan kapasitas diri supaya siap bersaing. Faiz mengatakan bahwa pada era Revolusi Industri 4.0 Mahasiswa harus memiliki skill ‘Complex Problem Solving’ ia tidak hanya mampu memecahkan masalah yang biasa melainkan ia harus terbiasa untuk merumuskan solusi untuk masalah yang sangat kompleks.

“Oleh sebab itu mahasiswa jangan hanya sibuk belajar apa yang menjadi ilmu kejurusanannya melainkan harus dibarengi dengan peningkatan kemampuan yang lain seperti System Skill, Cognitive Abilities Skill, Process Skill, dan Social Skill.” ujarnya mengakhiri. (ram/red)

Diposting pada kategory ,
Banner-Home-Top
TINGGALKAN KOMENTAR