Navigation

Ilustrasi anak kecil bermain gadget (foto: yourdost.com/istimewa)
Ilustrasi anak kecil bermain gadget (foto: yourdost.com/istimewa)

Anak kecanduan smartphone? Bahayakah?

KabarSubang – Subang. Perkembangan teknologi terutama Teknologi Informasi merambat ke semua hal dan semua bidang, dari mulai ekonomi, bisnis, pendidikan dan lain sebagainya. Selain itu merambat pula kepada aspek-aspek sosial dan aspek keluarga. Orang dewasa, anak muda dan orang tua pun tak ketinggalan soal perkembangan smartphone, tak terkecuali kepada anak kecil (balita) saat ini sudah bisa mengenali apa itu smartphone dan apa itu Internet dengan segala macam konten yang ada didalamnya.

Banyak pihak bertanya apakah dampak bagi anak yang masih balita yang telah mengenal smartphone canggih dengan segala fasilitasnya? Lalu bagaimana cara menghentikan kebiasaan kepada anak yang sudah keliatan “kecanduan” bermain smartphone? KabarSubang mewawancarai Septhi Karlina Utami, S.Psi, M.Psi, Psi seorang Psikolog Anak asli Kabupaten Subang dari Harkel Psikologi. Berikut petikan wawancara kami dengan beliau:

KabarSubang:  Anak-anak zaman dahulu (sebelum teknologi smartphone muncul) bermain bersama anak-anak lain di alam, zaman sekarang anak-anak bermain dengan smartphone, wajarkah?

Septhi Karlina Utami:  Wajar. Orang tua dan orang yg lebih tua di sekitarnya fokus pada handphone. Anak-anak nya ga diajak main, ngobrol, cerita. Ya jelas dia ngamuk lah. Jelas dia kepo apa yg diliatin sama orang tua nya. Jangan menyalahkan anak! sebagai orang tua, hendaknya berkaca terlebih dahulu, kenapa? Karena anak itu sangat mudah menirukan apa yg dilakukan orang tua nya.

KabarSubang:  Bahayakah apabila anak-anak dari kecil sudah bermain dengan handphone? Lalu bagaimana pengaruh anak-anak yang dari kecil sudah kecanduan bermain handphone untuk perkembangan mental dan fisik nya?

Septhi Karlina Utami:

Kembalikan ke fungsi handphone. Untuk apa anak-anak bermain dengan handphone? Usia dewasa saja diminta untuk membatasi diri dengan handphone karena ada beberapa cidera, seperti radiasi. Apalagi anak-anak yg secara fisik saja belum tumbuh optimal.

Anak, terutama anak usia dini (0-6 tahun) sangat butuh bergerak. Minimal 3-4 jam sehari, anak butuh aktif bergerak. Kenapa bergerak? Karena lewat bergerak, otak anak terstimulasi untuk aktif.

Jadi, bahayakah kalau anak main handphone sejak kecil? Ya. Apa bahayanya? Kesehatan mata, kemungkinan terhambatnya perkembangan.

Biasanya ibu-ibu suka ngeles, “tapi kan dia nonton youtube yg isinya edukasi kok”.

Sebagai pengetahuan, bahwasanya aspek perkembangan anak itu ada beberap hal, diantaranya: motorik kasar (gerakan besar misal lari, melompat, naik turun tangga, dsb), motorik halus (gerakan kecil, yg dilakukan tangan), bahasa, kognitif, sosioemosional. Dr aspek-aspek itu, mana yg diedukasi sama tontonan YouTube?

Motorik kasar? Jelas ngga, toh anaknya duduk diem.

Motorik halus? Yg aktif cuma telunjuk geser-geser layar.

Bahasa? Pasif mungkin iya. Dia ngerti banyak hal. Tp anak ga diajak ngomong, kemampuan ekspresifnya kurang optimal.

Kognitif? Ini mungkin bisa dapet.

Sosio-emosinal? Big no! Anak tidak peka dengan lingkungan, karena fokus pada sesuatu di handphone, anak kurang bisa mengenali emosi-emosi yg dia rasakan, dan dia jadi kurangg bisa meregulasi dirinya sendiri. Akibatnya? Anak sering marah-marah jika keinginan nya tidak terpenuhi.

KabarSubang:  Apa Solusi bagi orang tua agar anak-anak bisa terkontrol agar mereka tidak melulu bermain handphone?

Septhi Karlina Utami:  Konsisten menerapkan aturan untuk diri sendiri dan anak tentang penggunaan handphone. Harus tegas, harus tega, tidak ada negosiasi.

Misalkan “boleh nonton YouTube hari minggu jam 10-12”. Maka orang tua pun tidak menggunakan handphone di depan anaknya diluar hari minggu jam 10 hingga jam 12.

Kabarsubang:  ada pesan khusus untuk para orang tua?

Septhi Karlina Utami:  Gadget bukan sumber masalah, tapi manusia yang memanfaatkannya yang harus lebih siap.

Diposting pada kategory ,
Banner-Home-Top
TINGGALKAN KOMENTAR